Sobat Muslim, pernah nggak sih ngalamin momen di mana puasa lo berasa berat banget, terus tiba-tiba ada temen yang nyolot, motor nyerempet, atau WiFi tiba-tiba lemot pas lagi butuh banget? Seketika itu juga, sumuk dada, pengen ngamuk, pengen banting barang — tapi inget lagi puasa. Tahan... tahan... eh malah meledak!
Nah, setelah ledakan itu reda, tiba-tiba muncul rasa bersalah. "Ya ampun, gue marah-marah. Puasa gue batal nggak, ya? Jangan-jangan sia-sia puasa hari ini?" — sambil scroll TikTok yang isinya malah makin bikin insecure.
Pertanyaan ini klasik banget di kalangan anak muda kayak kita. Apalagi setelah di artikel sebelumnya kita udah bahas tuntas soal mitos puasa bikin lemes, tidur saat puasa, hukum sikat gigi, musik di bulan Ramadhan, dan ngabuburit harus keluar rumah. Sekarang saatnya kita bedah topik yang dekat banget sama kehidupan sehari-hari: marah saat puasa. Yuk, simak!
Fakta atau Mitos: Marah Bikin Puasa Batal?
Jawabannya singkat dan jelas: MITOS kalau marah membatalkan puasa.
Para ulama sepakat bahwa marah — sebesar apa pun ledakannya — tidak termasuk dalam kategori hal-hal yang membatalkan puasa secara fiqih. Yang membatalkan puasa itu adalah makan, minum, hubungan suami-istri di siang hari, haid, nifas, muntah dengan sengaja, dan hal-hal spesifik lainnya . Marah nggak ada di daftar itu.
Jadi, kalau lo marah besar sampai muka merah, nafas kenceng, bahkan sampai teriak-teriak, secara hukum puasa lo tetap SAH. Lo nggak perlu khawatir harus qadha di hari lain hanya karena emosi sesaat .
Tapi... tunggu dulu. Jangan buru-buru lega dan berpikir "Ah, berarti aman kalau marah!"
Masalahnya Bukan di Sah, Tapi di Pahala!
Nah, di sinilah poin krusial yang sering dilewatkan. Sama seperti bahasan kita di artikel sebelumnya tentang musik saat puasa dan tidur seharian, ada perbedaan besar antara sah dan berkualitas. Antara sekadar menahan lapar dan meraih takwa.
Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan pula berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencacinya atau memeranginya, hendaklah ia berkata, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa' sebanyak dua kali." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini tegas banget. Puasa itu bukan cuma soal perut kosong, tapi juga lisan dan hati yang terjaga. Kata "jangan berkata kotor" dan "jangan berteriak-teriak" adalah bentuk pengendalian diri dari amarah.
Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah:
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dengan rasa lapar dan haus yang dia tahan." (HR. Bukhari)
Ngeri banget, kan? Bayangin, udah susah-susah nahan laper seharian, panas-panasan di jalan, nahan ngiler liat orang makan — tapi karena nggak bisa nahan marah, hasilnya nihil. Allah nggak butuh puasa kita kalau kita masih melakukan hal-hal yang dilarang, termasuk marah yang berlebihan.
Marah Bisa Menghapus Pahala, Bahkan Menghilangkannya Total
Para ulama menjelaskan bahwa marah saat puasa bisa mengurangi pahala puasa, bahkan bisa menghapusnya secara total .
Ustadz Abu Hurairah Abdul Salam, Kepala Humas Masjid Istiqlal, menegaskan: "Marah tidaklah membatalkan puasa tapi tentunya bisa mengurangi (pahala)" . Sementara Ustadz Ainul Yaqin menambahkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi juga menahan diri dari segala perbuatan dosa — termasuk marah, ghibah, dan penyakit hati lainnya .
Jadi, analoginya gini: Puasa itu kayak kita lagi nabung pahala. Setiap detik kita nahan lapar, dapat pahala. Tapi kalau kita marah, itu kayak kita ambil uang dari tabungan. Bisa berkurang, bisa habis, tergantung sebesar apa ledakan marahnya.
Kenapa Sih Kita Gampang Marah Pas Puasa?
Sebelum nyalahin diri sendiri, kita perlu tahu penyebabnya. Ternyata ada penjelasan ilmiah di balik emosi yang naik turun saat puasa:
1. Gula Darah Turun, Emosi Naik
Saat nggak makan dalam waktu lama, kadar gula darah (glukosa) menurun. Padahal glukosa adalah sumber energi utama otak. Akibatnya, otak kekurangan energi buat ngatur emosi dengan baik. Dalam dunia medis dikenal istilah hypoglycemia-induced irritability — mudah marah akibat rendahnya gula darah .
2. Hormon Stres Meningkat
Hormon kortisol dan adrenalin meningkat saat tubuh kekurangan energi. Kedua hormon ini bikin kita lebih sensitif, cemas, dan gampang tersinggung . Ditambah lagi, adrenalin yang keluar sepuluh kali lipat saat marah bikin tubuh makin boros energi .
3. Kurang Tidur
Pola tidur berubah karena sahur dan tarawih. Penelitian dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa kurang tidur meningkatkan aktivitas amigdala (pusat emosi di otak) hingga 60 persen! Artinya, reaksi emosional kita jadi lebih cepat dan intens .
4. Dehidrasi
Kurang cairan memengaruhi fungsi kognitif. Dehidrasi ringan aja udah cukup bikin konsentrasi buyar dan mood anjlok .
5. Putus Kafein (Caffeine Withdrawal)
Buat lo yang biasa minum kopi tiap pagi, puasa bisa bikin gejala putus kafein: pusing, lemes, susah fokus, dan perubahan suasana hati .
Nah, paham kan kenapa kita gampang marah? Ini bukan alasan buat lepas kendali, tapi justru jadi tantangan buat belajar ngontrol diri.
Cara Jitu Mengendalikan Marah ala Islam + Sains
Biar puasa lo tetep berkualitas dan pahala nggak terkikis, nih beberapa tips yang bisa dicoba:
1. Ucapkan "Innii Shoo-imun" (Saya Sedang Puasa)
Ini sunnah langsung dari Nabi. Saat ada yang memicu amarah, ucapkan dalam hati atau lisan: "Saya sedang puasa." Ini akan mengingatkan diri sendiri bahwa lo sedang dalam status ibadah, dan marah hanya akan merusaknya .
2. Ambil Wudu
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa marah itu dari setan, dan setan terbuat dari api. Padamkan dengan air. Ambil wudu, rasakan air dingin menyentuh wajah — dijamin langsung adem .
3. Ubah Posisi
Kalau marah pas berdiri, duduklah. Kalau masih marah pas duduk, berbaringlah. Mengubah posisi membantu mengubah fisiologi tubuh dan meredakan emosi .
4. Tarik Napas Dalam
Diam sejenak, tarik napas panjang, hembuskan pelan-pelan. Ini membantu menurunkan detak jantung dan memberi waktu bagi otak untuk mikir jernih .
5. Ingat Keutamaan Menahan Marah
Ini motivasi ekstra: Rasulullah SAW bersabda,
"Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki." (HR. Abu Daud) .
Bayangin, surga dan bidadari menanti lo yang bisa nahan marah. Worth it banget, kan?
6. Jaga Asupan Saat Sahur
Pilih karbohidrat kompleks (nasi merah, oatmeal), protein, dan serat. Hindari gula berlebih yang bikin energi cepat naik lalu anjlok. Ini bantu jaga stabilitas gula darah seharian .
7. Cukupi Cairan
Minum air putih yang cukup antara buka dan sahur (8 gelas pola 2-4-2) untuk mencegah dehidrasi .
Puasa Itu Latihan Jadi Manusia Terbaik
Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
ÙŠَٰٓØ£َÙŠُّÙ‡َا ٱلَّذِينَ Ø¡َامَÙ†ُوا۟ Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ُ ٱلصِّÙŠَامُ ÙƒَÙ…َا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙ‰ ٱلَّذِينَ Ù…ِÙ† Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ…ْ Ù„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ تَتَّÙ‚ُونَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Albaqarah 183)
Tujuan akhir puasa adalah takwa — yaitu kesadaran penuh untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dalam kondisi apa pun. Termasuk saat lapar, saat capek, saat emosi memuncak.
Marah itu manusiawi. Tapi marah saat puasa jadi ujian sejauh mana lo bisa mengendalikan diri. Jangan sampai kita termasuk orang yang disebut Nabi:
"Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus." (HR. Ibnu Majah)
Kesimpulan: Marah Itu Nggak Batalin, Tapi...
Jadi, MITOS kalau marah membatalkan puasa. Tapi FAKTA kalau marah bisa mengurangi, bahkan menghapus pahala puasa.
Sama seperti bahasan kita sebelumnya: musik nggak batalin tapi bisa kurangi pahala, tidur boleh tapi jangan sampai ketinggalan ibadah, ngabuburit nggak harus keluar rumah asal isinya bermanfaat — semua kembali ke esensi puasa itu sendiri: pengendalian diri.
Ramadhan itu cuma datang setahun sekali. Sayang banget kalau kita udah susah-susah nahan lapar, eh pahalanya berkurang cuma karena nggak bisa nahan emosi. Yuk, jadikan Ramadhan ini sebagai momen latihan jadi pribadi yang lebih sabar, lebih kalem, dan lebih dewasa dalam menghadapi situasi.
Yuk, Evaluasi Diri!
Gimana menurut lo? Selama Ramadhan ini, udah berapa kali lo marah? Apakah setelah marah lo merasa puasa lo tetap berkualitas?
Share artikel ini ke temen-temen tongkrongan atau grup keluarga yang masih suka emosian pas puasa! Biar mereka paham, marah itu nggak batalin tapi rugi besar kalau pahala sampai habis. Komen di bawah, yuk: tips andalan lo buat nahan marah saat puasa apa?


Posting Komentar