Mitos Ngabuburit Harus Keluar Rumah, Emang Iya?

Sobat Muslim, siapa nih yang kalau denger kata "ngabuburit" langsung kebayang macet-macetan, nongkrong di kafe, atau hunting takjil sampai lupa waktu? Atau jangan-jangan kamu termasuk tim yang merasa hari puasa tuh nggak afdol kalau nggak keluar rumah sore-sore — padahal dompet udah menjerit, kaki udah pegal, tapi gengsi tetap dijaga?

Tenang, kamu nggak sendirian. Tradisi ngabuburit emang udah mendarah daging di Indonesia. Tapi, muncul pertanyaan yang bikin galau: ngabuburit itu HARUS keluar rumah? Kalau di rumah aja, apa masih disebut ngabuburit? Terus, dosa nggak sih kalau milih rebahan sambil scroll TikTok daripada ikut macet di jalan?

Nah, setelah kita bahas tuntas soal mitos puasa bikin lemes, mitos tidur dapat pahala, kontroversi sikat gigi saat puasa, dan hukum musik di bulan Ramadhan, sekarang saatnya kita bedah tradisi yang satu ini. Yuk, simak biar nggak salah kaprah!

Ngabuburit Itu Apa Sih Sebenarnya?

Sebelum kita debat soal "harus keluar rumah", kita lurusin dulu definisinya. Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, yaitu "ngalantung ngadagoan burit" yang artinya bersantai-santai menunggu waktu sore . Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ngabuburit diartikan sebagai kegiatan menunggu azan magrib menjelang berbuka puasa pada bulan Ramadhan .

Jadi, secara bahasa, ngabuburit itu esensinya adalah "menunggu waktu berbuka" — BUKAN "jalan-jalan" atau "nongkrong di luar rumah". Poin pentingnya ada di "menunggu" dengan aktivitas tertentu, bukan di lokasinya.

Jadi, Mitos atau Fakta?

Jawabannya: MITOS kalau ngabuburit itu harus keluar rumah!

Faktanya, ngabuburit itu soal aktivitas, bukan soal lokasi. Yang membedakan apakah ngabuburit kamu berkualitas atau nggak adalah apa yang kamu lakukan, bukan di mana kamu berada. Bahkan, dalam Islam, yang jadi patokan utama adalah niat dan bentuk aktivitasnya .

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim) .

Kalau niat ngabuburitmu cuma pengin rame-rame doang, pengin foto buat story, atau ikut-ikutan biar nggak disebut kuper — ya mungkin kamu perlu evaluasi lagi. Tapi kalau niatnya untuk mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat, mendekatkan diri kepada Allah, atau mempererat silaturahmi — maka di mana pun kamu berada, ngabuburitmu tetap bernilai positif .

Ngabuburit di Rumah? Bisa Banget, Malah Lebih Produktif!

Buat kamu yang introvert, lagi hemat, atau cuma males keluar karena macet — kabar baik: ngabuburit di rumah itu SAH-SAH AJA, bahkan bisa lebih produktif! Cekidot:

1. Tadarus Al-Qur'an

Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an (Syahrul Qur'an). Memanfaatkan waktu ngabuburit untuk membaca Al-Qur'an adalah pilihan paling utama . Nggak harus khatam, yang penting rutin dan paham maknanya. Allah SWT berfirman:

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183) .

Salah satu cara meraih takwa adalah dengan mendekatkan diri pada Al-Qur'an. Apalagi sambil nunggu magrib, hati lebih tenang, bacaan lebih khusyuk.

2. Ikut Kajian Online

Di era digital, nggak perlu keluar rumah buat dengerin ceramah. Buka YouTube atau Instagram, tinggal cari kajian dari ustadz terpercaya. Banyak kok kajian singkat 15-30 menit yang pas banget buat ngabuburit . Rodja TV dan radio-radio Islam menyediakan banyak konten berkualitas yang bisa kamu akses dari rumah.

3. Bantu Siapin Takjil di Rumah

Ngomong-ngomong soal takjil, ngabuburit di rumah bisa kamu isi dengan bantu orang tua nyiapin menu buka. Ini nggak cuma ngilangin waktu, tapi juga nambah pahala berbakti. Rasulullah SAW bersabda:

"Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (HR Bukhari dan Muslim) .

Nah, membantu persiapan berbuka termasuk bagian dari menyegerakan, kan?

4. Baca Buku atau Artikel Islami

Kadang kita lupa kalau membaca itu ibadah. Sambil nunggu magrib, ambil buku sirah nabawiyah atau artikel tentang keutamaan Ramadan . Otak tetep aktif, hati tetep adem.

5. Quality Time Sama Keluarga

Momen ngabuburit di rumah bisa jadi kesempatan emas buat ngobrol sama keluarga. Bahas agenda buka puasa, rencana tarawih, atau sekadar nostalgia. Ini juga bagian dari menjaga silaturahmi yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Yang Perlu Diwaspadai: Jangan Sampai "Mbadog"

Nah, ada satu fenomena yang sering terjadi pas ngabuburit — apalagi kalau di luar rumah — yaitu budaya mbadog atau makan berlebihan saat berbuka . Ini nih musuh besar produktivitas!

Ironisnya, setelah seharian berpuasa menahan lapar, sebagian orang malah "balas dendam" dengan menyantap makanan porsi jumbo. Padahal Allah udah ngasih warning:

یٰبَنِیْۤ اٰدَمَ خُذُوْا زِیْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا ۚ اِنَّهٗ لَا یُحِبُّ الْمُسْرِفِیْنَ

"Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan." (QS. Al-A'raf: 31) .

Rasulullah SAW sendiri cuma berbuka dengan kurma dan air sebelum shalat magrib, baru makan secukupnya setelahnya. Ini ngajarin kita bahwa esensi puasa itu mengendalikan hawa nafsu — termasuk nafsu makan .

Waktu Mustajab yang Sering Terlewatkan

Satu lagi yang sering dilupain: waktu menjelang magrib itu adalah salah satu waktu mustajab untuk berdoa . Sayang banget kalau kita sibuk nongkrong atau macet-macetan sampai lupa buat angkat tangan dan memohon sama Allah.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah:

"Ada tiga orang yang doanya tidak tertolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi." (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Nah, orang yang berpuasa punya keistimewaan doa yang tidak tertolak, terutama menjelang berbuka. Jadi, jangan sia-siakan momen ini cuma karena sibuk hunting takjil!

Ngabuburit di Luar Rumah? Boleh Kok, Asal...

Bukan berarti ngabuburit di luar rumah dilarang, ya. Yang penting kita perhatikan beberapa hal:

  1. Jaga niat — luruskan niat untuk mengisi waktu dengan positif, bukan cuma ikut-ikutan atau flexing di medsos .
  2. Hindari maksiat — jangan sampai ngabuburit malah jadi ajang ikhtilat (campur baur lawan jenis), buka aurat, atau hal-hal yang dilarang syariat.
  3. Jangan berlebihan — belanja takjil secukupnya, jangan kalap. Ingat QS. Al-A'raf: 31
  4. Tetap ingat waktu — jangan sampai asyik nongkrong sampai lupa magrib atau bahkan telat shalat.
  5. Pilih tempat yang aman dan sesuai syariat — hindari tempat-tempat yang rawan maksiat atau campur baur tanpa batas.

Kesimpulan: Rumah atau Luar, Yang Penting Isinya!

Jadi, MITOS kalau ngabuburit harus keluar rumah. Ngabuburit itu soal bagaimana kita mengisi waktu menjelang magrib dengan aktivitas yang bermanfaat — di mana pun lokasinya.

Sama seperti bahasan kita di artikel sebelumnya: puasa nggak bikin lemes kalau pola makannya bener, tidur itu boleh tapi jangan sampai ketinggalan pahala, sikat gigi aman asal hati-hati, dan musik nggak batalin puasa tapi bisa kurangi pahala. Nah, ngabuburit juga gitu: bukan soal "rame-rame di luar", tapi soal kualitas aktivitas yang kita pilih.

Ramadan itu cuma datang setahun sekali. Jangan sampai waktu berlalu sia-sia, apalagi waktu-waktu berharga seperti menjelang magrib. Mau di rumah, di masjid, atau di taman kota — yang penting kita tetap dalam koridor ibadah dan ketaatan.

Gimana menurut kamu? Siap jadi tim ngabuburit produktif di rumah, atau tetap eksis di luar dengan tetap jaga syariat?

Share artikel ini ke grup tongkrongan atau keluarga yang masih ngotot kalau ngabuburit itu harus keluar rumah! Biar mereka paham, yang penting itu isi, bukan lokasi. Komen di bawah, yuk: kegiatan ngabuburit favorit kamu apa? Di rumah atau di luar?

Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

"Berkomentarlah dengan bijak dan sopan, mari kita budayakan bertutur kata yang baik dan saling menghormati. Mohon maaf bila komentar Anda yang tidak memenuhi kriteria tersebut akan saya hapus. Bila Anda ingin memberikan saran, kritik, masukan yang membangun, dan memberikan tambahan materi bila ada kekurangan pada artikel yang sedang dibahas dengan senang hati saya persilakan, terima kasih."