Benarkah Tidur Seharian Tetap Dapat Pahala Puasa?

Siapa di sini yang pernah mendengar kalimat ini: "Udah ah, tidur aja. Daripada melek tapi ngelakuin dosa. Lagian, tidur orang puasa kan ibadah, dapat pahala!" — sambil langsung guling-guling di kasur?

Hayooo, ngaku! Rasanya kalimat ini tuh kayak golden ticket buat kita yang lagi mager ( males gerak ) abis sahur. Apalagi pas siang hari tiba, perut mulai keroncongan, mata berat setengah hidup. Tiba-tiba inget "hadits" itu, dan... yeay! Rebah sambil scroll TikTok dikit, tidur lagi, dapat pahala pula. Hidup memang indah, ya?

Tapi, Sobat. Jangan-jangan selama ini kita cuma mencari pembenaran? Jangan-jangan kita malah ketinggalan event besar karena salah paham? Sebelum kamu memutuskan buat hibernate sampai Maghrib, yuk kita bedah tuntas: benarkah tidur seharian saat puasa dapat pahala?

Asal-Usul "Hadits Tidur Ibadah" yang Sering Dikaitkan

Kita mulai dari sumbernya dulu, ya. Anggapan ini berasal dari sebuah hadits yang berbunyi:

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.”

Kelihatannya manis banget, kan? Kayak stroberi yang siap bikin kita tidur nyenyak. Tapi, kita perlu lihat lebih dalam. Menurut para ahli hadits, termasuk yang dijelaskan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan para ulama kredibel lainnya, hadits ini statusnya dha'if (lemah), bahkan sebagian ulama mengatakan maudhu' (palsu) .

Ustadz Abdul Somad dalam ceramahnya juga menegaskan hal ini. Beliau bilang, hadits ini tidak bisa dipakai sebagai alasan untuk tidur terus-terusan saat puasa. Karena nggak pernah ada tuh contoh Nabi Muhammad SAW yang banyak tidur di siang hari . Jadi, fondasi anggapan "tidur dapat pahala" ini ternyata udah retak sejak awal.

Perowi hadits ini adalah ‘Abdullah bin Aufi. Hadits ini dibawakan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437. Dalam hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hasan dan dia adalah perowi yang dho’if (lemah). Juga dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dho’if dari Ma’ruf bin Hasan.

Dalam riwayat lain, perowinya adalah ‘Abdullah bin ‘Amr. Haditsnya dibawakan oleh Al ‘Iroqi dalam Takhrijul Ihya’ (1/310) dengan sanad hadits yang dho’if (lemah).

Kesimpulan: Hadits ini adalah hadits yang dho’if. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 4696 mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang dho’if (lemah).

Lalu, berarti tidur itu dosa? Bukan juga. Sabar dulu, kita lanjut.

Kalau Tidur Seharian, Apakah Puasanya Tetap Sah?

Nah, ini pertanyaan teknis yang penting. Kita takut udah susah-susah puasa, eh tiba-tiba batal karena kebanyakan rebah.

Tenang, soal keabsahan puasa, para ulama dari mazhab Syafi'i dan mayoritas ulama (jumhur) sepakat: puasanya tetap sah! . Asalkan, kamu sudah berniat puasa pada malam harinya. Nggak peduli kamu tidur selama 12 jam non-stop, selama masih dalam status Islam, mumayyiz (bisa bedain baik buruk), dan nggak melakukan hal yang membatalkan, puasa kamu sah secara hukum .

Tapi, sah dan berkualitas itu dua hal yang beda, gengs. Kayak makanan: sah-sah aja kita makan nasi pake garam doang. Tapi alangkah lebih nikmat dan bergizi kalau ada lauk, sayur, dan buahnya, kan?

Masalahnya Bukan di Tidurnya, Tapi di "Tujuan" dan "Produktivitas"

Nah, di sinilah kita bedah fakta sebenarnya.

Para ulama seperti KH. Mahbub Ma'afi dari PBNU dan KH. Yahya Zainul Ma'arif  (Buya Yahya) menjelaskan dengan gamblang. Pahala yang didapat orang tidur saat puasa itu bukan pahala karena tidurnya, tapi tetaplah pahala puasa yang dijalankannya .

Artinya apa? Kalau kamu tidur seharian, kamu cuma dapet pahala puasa doang. Sementara, bulan Ramadhan itu adalah bulan super sale pahala. Coba simak hadits ini:

"Wahai manusia! Telah datang menaungi kamu bulan yang agung, bulan yang diberkahi... Barangsiapa yang melakukan satu macam kebaikan di dalamnya, maka dia seperti melakukan kewajiban fardhu di luar Ramadhan. Barangsiapa yang melakukan satu kewajiban di bulan Ramadhan, maka dia seperti menjalankan 70 kewajiban di luar bulan Ramadhan." (HR. Ibnu Huzaimah) .

Nah, rugi banget kan kalau cuma dapet pahala puasa doang? Di luar puasa, kita bisa dapet pahala tilawah, pahala sedekah, pahala shalat malam, pahala bantuin orang tua, pahala nge-share konten positif... duh, banyak banget!

Buya Yahya bahkan mengingatkan, kalau tidur terus, kita berpotensi lalai dari kewajiban lain yang lebih penting, seperti shalat wajib (Zuhur dan Ashar) . Padahal, derajat shalat lebih tinggi dari puasa. Kalau sampai bolong shalatnya, puasa kita mungkin sah secara teknis, tapi dosa karena tinggal shalat tetaplah ada .

Lalu, Tidur di Bulan Puasa Itu Salah?

Eits, jangan ekstrem juga. Tidur itu bukan dosa. Tidur itu kebutuhan biologis. Bahkan, Gus Baha memberikan perspektif yang adem banget soal ini. Beliau menjelaskan, kenapa tidur bisa disebut punya "nilai positif" saat puasa? Karena tidur bisa menghindarkan kita dari maksiat .

Logikanya gini: Kalau kamu bangun, tapi yang kamu lakukan adalah scroll medsos sambil iri sama hidup orang, komen pedas di mana-mana, nonton konten yang nggak bermanfaat, apalagi sampai ghibah (gosip) sama teman-teman "sakti" di grup chatting — nah, mendingan kamu tidur! .

Jadi, tidur itu seperti "mode aman". Dia jadi ibadah bukan karena aktivitas tidurnya sendiri, tapi karena niat kita untuk menjaga diri dari perbuatan sia-sia dan maksiat, serta memulihkan tenaga agar bisa bangun malam untuk tahajud atau shalat tarawih dengan khusyuk .

Jadi, Pilih Mana: Jadi Pemalas atau Pejuang Pahala?

Kesimpulannya, mitos tentang "tidur seharian dapat pahala" sudah terjawab sudah. Fakta sebenarnya:

  • Hadits tentang tidur ibadah itu statusnya lemah, jadi jangan dijadikan tameng buat bermalas-malasan.
  • Puasanya tetap sah, tapi kamu cuma dapet pahala puasa doang. Sayang banget, karena bulan Ramadhan itu diskonan pahala gede-gedean!
  • Tidur boleh, asal secukupnya. Gunakan untuk memulihkan energi agar makin semangat beribadah.
  • Lebih baik tidur daripada bangun tapi maksiat. Itu poinnya Gus Baha.

Intinya, jadilah Muslim yang cerdas. Pilih jadi tim produktif yang puasanya full senpai: sahur berkualitas, kerja atau kuliah tetap semangat, ngaji rutin, sedekah, shalat malam, dan tetap aktif. Jangan jadi tim kura-kura yang tidur terus, bangun cuma buat buka dan sahur, lalu tidur lagi. Rugi dong, masa iya kita cuma jadi penonton di bulan seistimewa ini?

Yuk, Maksimalkan Sisa Waktu!

Ramadhan itu cuma datang setahun sekali. Jangan sampai kita melewatkannya hanya karena selimut dan bantal. Mulai sekarang, yuk atur strategi. Tidur cukup, bukan berlebihan. Manfaatkan setiap detik untuk hal-hal yang bikin kita makin dekat sama Allah.

Gimana menurut kamu? Apakah kamu selama ini termasuk tim yang suka "menganjurkan" tidur saat puasa?

Share artikel ini ke semua teman-teman kamu yang suka tadabbur di kasur! Biar mereka nggak salah kaprah lagi. Komen di bawah, yuk, bagi tips anti ngantuk biar tetap produktif selama puasa!

Lebih lamaTerbaru

Posting Komentar

"Berkomentarlah dengan bijak dan sopan, mari kita budayakan bertutur kata yang baik dan saling menghormati. Mohon maaf bila komentar Anda yang tidak memenuhi kriteria tersebut akan saya hapus. Bila Anda ingin memberikan saran, kritik, masukan yang membangun, dan memberikan tambahan materi bila ada kekurangan pada artikel yang sedang dibahas dengan senang hati saya persilakan, terima kasih."