Hai, Sobat Muda! Sebelum lanjut, gue mau kasih tau sesuatu yang mungkin bikin lo merinding. Di era sekarang tuh, banyak banget kejahatan yang dibungkus dengan tampilan "oke-oke aja". Bahkan, yang lebih parahnya, kejahatan itu seringkali dilakukan sama orang-orang yang lo kira "alim", "santun", dan "rajin ibadah". Kocak, kan?
Tapi jangan salah, gue bukan mau ceramahin lo tentang kejahatan biasa kayak maling atau begal. Bukan. Gue mau ajak lo ngobrol tentang satu "monster" yang diam-diam udah ngeracun banyak orang, bahkan mungkin termasuk lo sendiri. Monster itu namanya RIBA.
Eits, jangan tutup artikel dulu! Lo mungkin pikir, "Ah, riba tuh cuma urusan bank, deposito, atau pinjol abal-abal." Tapi kenyataannya, riba itu udah nyusup ke mana-mana. Dari belanja online pake paylater, kartu kredit yang "bebas bunga" tapi ada biaya administrasi terselubung, sampai investasi bodong yang janjiin cuan gila-gilaan. Tenang, gue bakal kupas tuntas di sini. Siap? Gaskeun!
---
Zaman Now: Riba Jadi "Biasa Aja"?
Coba lo perhatiin lingkungan sekitar. Dulu, orang tua kita mungkin mikir utang tuh beban. Tapi sekarang? Banyak anak muda yang bangga punya 3-4 kartu kredit. Mereka bilang, "Wah, gue dapet limit 50 juta, keren banget kan?" Padahal di balik itu, ada bunga menganga yang siap nyerap duit lo pelan-pelan. Atau contoh lain, pinjaman online (pinjol) yang menawarkan "cepat cair, tanpa agunan". Sekilas membantu, tapi bunga hariannya bisa bikin lo boncos dalam hitungan minggu.
Sayangnya, kondisi ini udah dianggap wajar. Bahkan, sebagian orang menganggap riba sebagai "solusi instan" buat gaya hidup kekinian. Beli iPhone terbaru? Paylater aja! Liburan ke Bali? Cicil dulu! Padahal, mereka nggak sadar sedang terjebak dalam lingkaran setan yang dosanya nggak main-main.
Gue nggak bermaksud sok suci, tapi kita harus jujur. Banyak dari kita yang gaslighting diri sendiri, bilang kalau "bunga bank itu bukan riba", atau "riba cuma berlaku buat utang piutang tradisional". Hello? Zaman udah berubah, tapi esensi riba tetep sama: pengambilan tambahan di luar pokok utang dengan cara memeras.
---
Hadis yang Bikin Merinding: Riba Lebih Kejam dari Memperkosa Ibu Kandung?
Ok, sekarang gue ajak lo untuk baca satu hadis yang mungkin bikin lo mikir dua
kali sebelum main-main sama riba. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam
bersabda:
“Riba itu ada tujuh puluh tiga pintu (model). Dosa riba yang paling ringan itu seperti dosa seseorang yang memperkosa ibu kandungnya sendiri.
GILA, kan? Bayangin. Yang paling ringan aja udah sebanding dengan dosa perkosaan terhadap ibu kandung. Yang paling enteng! Artinya, kalau ada model riba yang lebih parah (misalnya riba berlapis, rentenir kejam, atau sistem bunga berbunga), dosanya sudah di luar nalar kita. Naudzubillah.
Coba lo resapi. Selama ini, kita sering menganggap zina itu dosa besar. Apalagi zina sama orang tua sendiri, itu udah level paling hina. Tapi ternyata, dalam timbangan Allah, satu transaksi riba kecil pun bisa setara dengan dosa yang begitu keji. Ini nggak main-main, guys.
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Hakim, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (3539). Jadi, jangan coba-coba bilang hadisnya lemah atau nggak jelas. Ini udah jelas dan tegas.
---
Kenapa Riba Sampai Sebegitu Kejamnya?
Mungkin lo bertanya-tanya, "Kenapa sih riba dibenci banget sama Allah?" Ok, gue jelasin pake logika anak muda.
- Riba itu memakan harta orang lain dengan cara batil. Coba lo bayangin ada temen lo yang lagi susah, butuh duit buat bayar kos atau beli obat. Terus lo kasih pinjaman 1 juta, tapi lo minta balik 1,2 juta dalam sebulan. Lo pikir lo baik karena "membantu", tapi sebenarnya lo sedang memperbudak dia dengan bunga. Dia makin susah, lo makin enak. Itu namanya nggak adil, bahkan kejam.
- Riba merusak sistem ekonomi. Saat riba merajalela, yang kaya makin kaya, yang miskin makin tercekik. Lihat aja negara-negara kapitalis yang sistem hutangnya bikin rakyat nggak bisa keluar dari kemiskinan. Rumah, mobil, pendidikan — semuanya dibayar pakai bunga. Hasilnya? Generasi muda kerja keras cuma buat bayar bunga, bukan buat masa depan.
- Riba menghilangkan berkah. Lo bisa aja merasa kaya karena punya tabungan besar dari hasil riba. Tapi percayalah, duit itu nggak akan ngebawa ketenangan. Ada studi psikologi yang bilang, orang yang hidup dari hasil haram cenderung lebih stres, gelisah, dan nggak pernah cukup. Apalagi secara spiritual, doanya susah diijabah. Jadi, rugi banget kan?
Self-Check: Apakah Lo Termasuk Pemakan Riba?
- Apakah lo punya tabungan atau deposito di bank konvensional yang pakai sistem bunga?
- Apakah lo pernah pakai kartu kredit dan telat bayar sampai kena denda plus bunga?
- Apakah lo pernah beli barang secara kredit dengan sistem "0% bunga" tapi ada biaya admin bulanan yang sebenarnya setara bunga?
- Apakah lo pernah investasi di instrumen yang basisnya riba (obligasi konvensional, reksadana syariah? hati-hati juga screening-nya)?
- Apakah lo kerja di perusahaan yang operasionalnya bergantung pada riba (bank konvensional, perusahaan leasing, dll)?
Solusi Zaman Now: Hidup Bebas Riba Itu Mungkin!
1. Pilih Bank Syariah dengan Hati-hati
2. Hindari Paylater dan Kartu Kredit
3. Kelola Utang Konsumtif
4. Investasi Syariah yang Halal
5. Tingkatkan Literasi Keuangan Islam
Kesimpulan: Jangan Jadi Generasi yang "Goblok" Finansial
Sumber rujukan:
- Muslim.or.id (artikel Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA)
- Hadis riwayat Al-Hakim, Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani dalam Shahihul Jami’ (3539)



Posting Komentar