Sekilas Tentang Buku "Miras Biang Kerusakan"
E-book ini diterbitkan oleh Rumaysho dan ditulis langsung oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc., yang latar belakangnya adalah sarjana teknik kimia. Jadi, jangan heran kalau pembahasannya sangat sistematis, terstruktur, dan berbasis data. Buku ini terdiri dari sekitar 90-an halaman, tapi jangan salah, isinya padat banget!
Secara garis besar, buku ini membahas tentang khamar (segala sesuatu yang memabukkan) dari berbagai sisi. Mulai dari definisi khamar secara bahasa dan istilah, hukum haramnya, konsekuensi bagi produsen dan konsumen, dampak kesehatan, hingga data kriminalitas yang diakibatkan oleh miras di Indonesia.
Yang bikin buku ini menarik, penulis gak cuma nyuruh menjauhi miras karena "dosa", tapi dia juga membeberkan fakta-fakta mengerikan tentang apa yang terjadi pada tubuh dan masyarakat kita jika miras terus dikonsumsi.
Bukan Cuma Soal Dosa, Tapi Ancaman Nyata buat Kesehatan dan Sosial
Di dalam buku ini, kita disuguhkan data yang cukup bikin merinding. Misalnya, penelitian di Amerika Serikat yang menyebutkan alkohol menyebabkan hampir 100.000 kematian per tahun. Belum lagi data dari Indonesia yang mencatat 144 orang tewas akibat miras oplosan hanya dalam kurun waktu Januari-April 2018.
Buku ini juga menjelaskan secara detail 7 tahapan mabuk alkohol, mulai dari tahap rileks, euforia, mabuk berat, hilang keseimbangan, pingsan, koma, hingga kematian. Penjelasan medisnya dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, seperti bagaimana alkohol merusak hati (liver), pankreas, dan sistem saraf pusat.
Selain itu, ada juga data dari penelitian di Kota Makassar yang menunjukkan bahwa kejahatan seperti penganiayaan, pembunuhan, dan perampasan paling banyak dipicu oleh konsumsi miras. Ironisnya, pelaku terbanyak adalah remaja usia 17-25 tahun, dan bahkan sudah ada yang dari tingkat Sekolah Dasar (SD). Ini sungguh realita yang memprihatinkan, bukan?
Kenapa Sih Miras Disebut "Biang Kerusakan"?
Mungkin kamu bertanya-tanya, kenapa sih judulnya harus "Biang Kerusakan"? Jawabannya ada di dalam buku ini, yang merujuk pada hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Khamar adalah induk berbagai macam kerusakan. Siapa yang meminumnya, shalatnya selama 40 hari tidaklah diterima. Jika ia mati dalam keadaan khamar masih di perutnya, berarti ia mati seperti matinya orang jahiliyah." (HR. Ath-Thabrani).
Kenapa disebut induk kerusakan? Karena khamar menutupi akal. Ketika akal sudah tertutup, manusia bisa melakukan apa saja. Penganiayaan, pemerkosaan, pembunuhan, dan perampasan seringkali berawal dari hilangnya kesadaran akibat miras.
Buku ini juga mengutip firman Allah dalam QS. Al-Maidah: 90-91:
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun (kotor) termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan."
Penulis menjelaskan bahwa dalam ayat ini, khamar disandingkan dengan penyembahan berhala dan perjudian. Allah menyebutnya sebagai rijsun (kotor) dan perbuatan setan. Setan pastinya ingin menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara manusia, dan miras adalah salah satu alatnya yang paling ampuh.
Pesan Menyejukkan: Jangan Hakimi, Tapi Rangkul dan Doakan
Nah, ini nih yang aku paling suka dari buku ini. Meskipun buku ini tegas mengharamkan miras dan menjelaskan hukuman hadd (cambuk) bagi pemabuk, tapi di akhir pembahasan, penulis memberikan pesan yang sangat menyejukkan.
Ada kisah menarik tentang Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu yang menulis surat kepada seorang pemabuk yang kabur dari hukuman. Dalam suratnya, Umar tidak menghina atau mengutuknya, melainkan menyanjung Allah Yang Maha Pengampun dan mengajaknya bertaubat.
Umar berkata kepada sahabatnya, "Berdoalah kepada Allah untuk kebaikan saudara kalian agar ia bisa menerima hidayah dengan hatinya, lalu semoga ia bisa bertaubat kepada Allah."
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah menegur seseorang yang melaknat pemabuk, dengan sabda beliau: "Janganlah kalian menjadi penolong setan untuk mencelakakan saudara kalian." (HR. Bukhari).
Pesan ini penting banget buat kita, terutama anak muda. Kadang, kita terlalu cepat menghakimi orang yang terjebak miras. Padahal, mereka adalah korban dari sistem, pergaulan, atau mungkin masalah psikologis. Buku ini mengajarkan kita untuk tidak menjauhi mereka, tapi merangkul dan mendoakan mereka agar kembali ke jalan yang benar. Pintu taubat itu selalu terbuka.
Worth It Gak Dibaca?
Jujur, buku ini sangat worth it banget buat kamu baca, apalagi kalau kamu aktif di organisasi, punya adik, atau sering bergaul di lingkungan yang rawan miras.
- Kelebihan: Sistematis, padat, dan berbasis data. Penulis sangat teliti dalam menyebutkan derajat hadits (shahih, hasan, dhaif), jadi kita gak asal ambil dalil. Bahasa yang digunakan juga lugas dan mudah dipahami orang awam.
- Kekurangan: Karena bentuknya e-book, mungkin buat sebagian orang masih lebih nyaman baca versi cetaknya. Tapi secara konten, ini sudah sangat lengkap.
Buku ini juga dilengkapi dengan referensi jurnal internasional dan berita online, jadi kamu bisa cek langsung sumber datanya kalau penasaran.
Posting Komentar