Istilah bid’ah dalam Islam mungkin sudah sering kamu dengar, terutama ketika mengikuti kajian, membaca artikel dakwah, atau berdiskusi di media sosial. Masalahnya, kata “bid’ah” sering dipakai tanpa memahami terlebih dahulu apa sebenarnya pengertiannya, bagaimana pembagiannya, dan dalam konteks apa istilah tersebut digunakan.
Akibatnya, pembahasan tentang bid’ah kadang berubah menjadi perdebatan panjang. Ada yang menganggap semua hal baru sebagai bid’ah. Ada pula yang menganggap semua hal baru sebagai sesuatu yang boleh dilakukan selama dianggap baik.
Padahal, sebelum ikut berkomentar, ada baiknya kita memahami istilahnya terlebih dahulu.
Dalam artikel ini, kita akan membahas pengertian bid’ah, hukum bid’ah dalam agama, macam-macam bid’ah, perbedaan bid’ah dalam urusan dunia dan agama, serta pembahasan tentang bid’ah hasanah berdasarkan kerangka pembahasan dalam artikel ini.
Apa Itu Bid’ah?
Secara sederhana, bid’ah dapat dipahami sebagai sesuatu yang baru. Namun, kata “baru” di sini perlu diperhatikan konteksnya.
Secara bahasa, bid’ah berasal dari kata bida’ yang memiliki makna mengadakan atau memulai sesuatu yang sebelumnya belum ada contohnya.
Al-Qur’an menggunakan bentuk kata yang memiliki akar yang sama ketika Allah berfirman:
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al-Baqarah: 117)
Dalam konteks ayat tersebut, maknanya berkaitan dengan penciptaan tanpa contoh sebelumnya. Jadi, secara bahasa, istilah bid’ah tidak otomatis berarti sesuatu yang buruk.
Hal yang sama juga dapat dilihat dalam QS. Al-Ahqaf ayat 9 ketika Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa beliau bukanlah rasul yang pertama.
قُلْ مَا كُنتُ بِدْعًا مِّنَ ٱلرُّسُلِ وَمَآ أَدْرِى مَا يُفْعَلُ بِى وَلَا بِكُمْ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ وَمَآ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٌ مُّبِينٌ
Artinya: Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan".
Bid’ah dalam Pengertian Agama
Ketika istilah bid’ah digunakan dalam pembahasan ad-dien, maknanya menjadi lebih khusus.
Bid’ah dalam agama adalah amalan baru yang dimasukkan ke dalam urusan agama tanpa contoh atau dasar dari Rasulullah ﷺ dan para sahabat utama beliau.
Di sinilah kita perlu membedakan antara urusan agama dan urusan dunia.
Misalnya, munculnya smartphone, internet, komputer, aplikasi, kendaraan listrik, atau teknologi kecerdasan buatan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia. Hal-hal tersebut tidak otomatis disebut bid’ah syar’iyyah hanya karena tidak ada pada zaman Nabi ﷺ.
Bedakan inovasi teknologi dan penemuan dunia dari penambahan sesuatu ke dalam urusan ibadah dan agama.
Hukum Bid’ah dalam Urusan Agama
Bid’ah dalam urusan agama adalah perkara yang harus dihindari karena ibadah memiliki dasar dan tuntunan yang harus mengikuti syariat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
“Janganlah kalian mengada-adakan perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”
Suatu amalan yang tidak memiliki dasar dari urusan Rasulullah ﷺ sebagai amalan yang tertolak.
Pesan penting yang bisa kita ambil adalah: semangat beribadah saja tidak cukup jika caranya tidak sesuai tuntunan.
Dalam urusan ibadah, seorang Muslim tidak hanya bertanya, “Apakah ini baik?” tetapi juga perlu bertanya, “Apakah ini memang disyariatkan dan bagaimana tuntunan pelaksanaannya?”
Inilah yang membuat pembahasan bid’ah berkaitan erat dengan pentingnya mempelajari Sunnah.
Bid’ah Tidak Sama dengan Semua Hal Baru
Ini salah satu bagian yang paling sering menimbulkan salah paham.
Kalau setiap benda atau teknologi baru disebut bid’ah yang sesat, tentu kita akan kesulitan menjalani kehidupan modern. Kamu menggunakan HP untuk membaca artikel ini. Kamu mungkin menggunakan laptop, internet, kamera digital, aplikasi, kendaraan, dan berbagai teknologi lain yang tidak ada pada zaman Rasulullah ﷺ.
Tetapi keberadaan benda-benda tersebut bukanlah inti pembahasan bid’ah syar’iyyah.
Hal-hal baru dalam adat dan kebiasaan, termasuk perkembangan IPTEK, ditempatkan sebagai perkara dunia yang pada dasarnya mubah. Sementara yang menjadi persoalan adalah memasukkan perkara baru ke dalam ad-dien.
| Contoh | Konteks | Perlu Dilihat |
|---|---|---|
| Smartphone | Urusan dunia | Manfaat dan penggunaannya |
| Internet | Urusan dunia | Digunakan untuk kebaikan atau keburukan |
| Aplikasi dakwah | Sarana | Isi dan cara penggunaannya |
| Menambah tata cara ibadah | Urusan agama | Apakah memiliki dasar syariat |
| Mengkhususkan waktu ibadah tertentu | Urusan agama | Apakah ada dalil yang mengkhususkannya |
Jadi, jangan sampai pembahasan bid’ah membuat kita keliru menyamakan inovasi teknologi dengan inovasi dalam tata cara ibadah. Dua hal tersebut berada dalam konteks yang berbeda.
Macam-Macam Bid’ah dalam Islam
Pembahasan bid’ah dalam agama dijelaskan dalam beberapa bentuk. Salah satunya adalah bid’ah yang berkaitan dengan keyakinan dan perkataan, serta bid’ah dalam ibadah.
1. Bid’ah dalam Keyakinan dan Perkataan
Bid’ah qauliyah ‘itiqadiyah berkaitan dengan perkataan dan keyakinan yang dianggap menyimpang dari pemahaman Al-Qur’an dan Sunnah.
Pembahasan seperti ini tentu tidak sederhana. Karena menyangkut akidah dan kelompok-kelompok pemikiran, seseorang sebaiknya tidak mudah memberikan vonis hanya berdasarkan potongan informasi di media sosial.
Kalau kamu menemukan pernyataan yang dianggap menyimpang, pelajari dulu dalil dan penjelasan ulama sebelum memberikan kesimpulan.
2. Bid’ah dalam Ibadah
Bid’ah dalam ibadah adalah membuat bentuk atau tata cara ibadah yang tidak memiliki dasar syariat.
Sumber tersebut membagi contohnya menjadi beberapa bentuk, antara lain:
- Menambahkan ibadah yang tidak disyariatkan.
- Menambah jumlah atau bentuk dalam ibadah yang sudah disyariatkan.
- Mengubah sifat atau tata cara pelaksanaan ibadah.
- Mengkhususkan waktu atau tempat tertentu untuk ibadah tanpa dalil yang mengkhususkannya.
Contoh menambah rakaat shalat wajib atau mengkhususkan waktu tertentu untuk ibadah yang sebenarnya tidak mendapatkan pengkhususan dari syariat.
Bagaimana dengan Istilah Bid’ah Hasanah?
Nah, ini bagian yang biasanya paling ramai ketika istilah bid’ah dibahas.
Ada istilah bid’ah hasanah yang secara harfiah berarti “bid’ah yang baik”. Sebagian ulama menggunakan pembagian bid’ah dengan pendekatan yang berbeda, sehingga pembahasan ini sebenarnya membutuhkan kehati-hatian dan pemahaman istilah.
Pembagian “bid’ah hasanah” dan “bid’ah sayyi’ah” tidak berlaku jika yang dimaksud adalah bid’ah secara syariat. Namun, istilah “bid’ah” dalam arti bahasa dapat digunakan untuk menyebut sesuatu yang baru dan baik dalam urusan dunia.
Lalu bagaimana dengan ucapan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika melihat pelaksanaan shalat Tarawih berjamaah dan mengatakan, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”?
Istilah bid’ah pada ucapan tersebut dipahami dalam makna bahasa, bukan bid’ah syar’iyyah. Alasannya, shalat Tarawih berjamaah sendiri memiliki landasan dari praktik Rasulullah ﷺ.
Begitu pula pengumpulan Al-Qur’an dalam satu mushaf dan pembukuan hadis. Kegiatan tersebut memiliki dasar dalam syariat dan dilakukan untuk menjaga Al-Qur’an serta Sunnah, sehingga tidak dipahami sebagai membuat ibadah baru tanpa dasar.
Kenapa Mengikuti Sunnah Itu Penting?
Kalau dipikir-pikir, inti pembahasan bid’ah sebenarnya bukan sekadar mencari-cari kesalahan orang lain. Justru ada pelajaran penting tentang bagaimana seorang Muslim menjalankan agama.
Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling memahami bagaimana beribadah kepada Allah. Karena itu, ketika sebuah ibadah memiliki tuntunan yang jelas, mengikuti tuntunan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap Sunnah.
Di sinilah kita perlu berhati-hati dengan kebiasaan baru dalam ibadah. Sesuatu mungkin terlihat indah, terasa baik, bahkan dianggap dapat memperkuat semangat keislaman. Tetapi dalam perkara ibadah, ukuran kebaikan bukan hanya perasaan kita.
Dalil dan tuntunan syariat tetap menjadi pegangan.
Kalau kamu ingin memperdalam pembahasan tentang pentingnya menjadikan tauhid sebagai pegangan di tengah perubahan zaman, kamu juga bisa membaca artikel sebelumnya di Kangsoel.web.id. Prinsipnya sama: zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi prinsip dasar agama tidak seharusnya kita ubah sesuka hati.
Jangan Jadikan Pembahasan Bid’ah sebagai Alat untuk Saling Menyerang
Ini juga penting, terutama di zaman media sosial.
Hari ini, hanya dengan sebuah komentar, seseorang bisa langsung menyebut orang lain “ahlul bid’ah”, sesat, atau bahkan memberikan vonis yang jauh lebih berat.
Padahal persoalan agama tidak selalu sesederhana kolom komentar.
Ada perbedaan istilah, perbedaan penjelasan ulama, perbedaan konteks, dan perbedaan rincian hukum yang perlu dipelajari. Karena itu, kalau kita menemukan amalan yang menurut kita tidak sesuai Sunnah, sampaikan dengan ilmu dan adab.
Jangan sampai niat ingin mengajak kepada Sunnah justru berubah menjadi kebiasaan mencela dan merendahkan sesama Muslim.
Allah mengingatkan agar manusia menyeru kepada jalan-Nya dengan hikmah dan nasihat yang baik. Prinsip ini penting dalam setiap dakwah, termasuk ketika membicarakan bid’ah.
Beberapa Sikap yang Sebaiknya Kita Biasakan
- Pelajari dalil sebelum menyimpulkan.
- Bedakan antara urusan dunia dan urusan ibadah.
- Jangan mengambil kesimpulan agama hanya dari potongan video.
- Periksa penjelasan ulama yang memiliki kompetensi.
- Hindari mudah memberi label kepada orang lain.
- Utamakan ilmu dan adab ketika berdiskusi.
- Jangan menjadikan perbedaan pembahasan agama sebagai alasan untuk bermusuhan.
Bid’ah dan Tantangan Dakwah di Era Digital
Ada satu hal yang membuat pembahasan bid’ah semakin relevan hari ini: informasi agama sangat mudah tersebar.
Kamu bisa menemukan potongan ceramah dari berbagai ustaz hanya dengan beberapa kali scroll. Ada yang menjelaskan satu pendapat, kemudian ada video lain yang memberikan penjelasan berbeda.
Masalahnya, algoritma media sosial tidak otomatis menjamin bahwa informasi yang paling sering muncul adalah informasi yang paling benar.
Karena itu, belajar agama tidak cukup hanya dengan mengandalkan konten pendek berdurasi satu menit.
Konten singkat boleh menjadi pintu masuk. Namun, untuk persoalan seperti akidah, fikih, Sunnah, dan bid’ah, kita membutuhkan kajian yang lebih lengkap.
Jangan sampai kita hanya mengumpulkan potongan dalil untuk memenangkan perdebatan, tetapi tidak benar-benar memahami maksudnya.
Penutup: Memahami Bid’ah dengan Ilmu dan Adab
Pembahasan bid’ah dalam Islam memang bukan pembahasan yang seharusnya diselesaikan hanya dengan slogan. Kita perlu memahami terlebih dahulu makna bid’ah secara bahasa dan istilah agama, kemudian membedakan antara perkara dunia dan perkara ibadah.
Dalam artikel ini, bid’ah yang dimaksud dalam larangan hadis adalah perkara baru yang dimasukkan ke dalam urusan agama tanpa dasar syariat. Sementara inovasi dalam urusan dunia seperti teknologi dan berbagai penemuan tidak otomatis masuk dalam pengertian bid’ah syar’iyyah.
Yang tidak kalah penting, pembahasan tentang bid’ah jangan sampai membuat kita kehilangan adab. Mengajak kepada Sunnah harus dilakukan dengan ilmu, hikmah, dan sikap yang baik.
Kalau artikel ini menurut kamu bermanfaat, silakan share kepada teman atau keluarga agar pembahasan tentang bid’ah tidak hanya berhenti sebagai perdebatan di media sosial. Kamu juga boleh meninggalkan komentar untuk berdiskusi dengan tetap menjaga adab.
Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, membimbing kita untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, serta menjauhkan kita dari kesalahan dalam memahami bid’ah dalam Islam. Wallahu a’lam.





Posting Komentar