Sobat Muslim, hayo ngaku! Siapa nih yang setiap Ramadhan pasti ngalamin momen bingung: ikut tarawih di masjid A 23 rakaat (20 tarawih + 3 witir), besoknya di masjid B cuma 11 rakaat (8 tarawih + 3 witir). Tiba-tiba muncul pertanyaan galau: "Yang bener yang mana, sih? Jangan-jangan gue salah pilih masjid?" — sambil mikir, "Tapi dua-duanya kayak sama-sama yakin, lho!"
Tenang, gengs! Kamu nggak sendirian. Perdebatan soal jumlah rakaat tarawih ini udah jadi "tradisi" tahunan di kalangan umat Islam Indonesia. Bahkan nggak jarang jadi bahan debat panas yang bikin ukhuwah islamiyah jadi sedikit panas.
Nah, setelah kita bahas tuntas di artikel-artikel sebelumnya soal makna puasa yang sebenarnya, hukum haid saat Ramadhan, dan mitos menelan ludah, sekarang saatnya kita bedah topik klasik yang satu ini. Yuk, simak biar nggak salah paham dan tetap toleran!
Pertama Kita Pahami Dulu: Apa Itu Shalat Tarawih?
Shalat Tarawih adalah shalat sunnah yang hanya dilakukan di bulan Ramadhan . Istilah "tarawih" sendiri sebenarnya nggak dikenal pada masa Nabi, baru muncul belakangan — tapi secara makna, ini adalah qiyam ramadan atau menghidupkan malam Ramadhan dengan ibadah .
Waktu pelaksanaannya setelah shalat Isya hingga sebelum subuh . Dan yang paling penting: hukumnya SUNNAH, bukan wajib. Jadi, nggak perlu saling menyalahkan, ya!
Kok Bisa Sih Ada Perbedaan?
Perbedaan jumlah rakaat tarawih ini terjadi karena adanya perbedaan interpretasi dan kontekstualisasi terhadap dalil-dalil yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah . Al-Qur'an memang memerintahkan shalat, tapi nggak menyebutkan secara eksplisit jumlah rakaat tarawih. Karena itu, hadis berfungsi sebagai penjelas .
Selama argumentasinya kuat dan sanad hadisnya valid, perbedaan tersebut nggak jadi masalah. Ini justru menunjukkan keluasan ijtihad dan dinamika intelektual dalam Islam.
Pendapat 1: Tarawih 8 Rakaat + 3 Witir = 11 Rakaat
Kelompok ini berpegang pada hadits riwayat Aisyah RA, istri Rasulullah. Beliau berkata:
Hadits ini menunjukkan bahwa praktik Nabi adalah 4 rakaat + 4 rakaat + 3 witir, total 11 rakaat. Ini menjadi dasar utama bagi yang melaksanakan 8 rakaat tarawih + 3 witir .
Pendapat ini dipegang oleh:
- Sebagian ulama mazhab Hanafi
- Majelis Tarjih Muhammadiyah
Hadits ini shahih dan diriwayatkan oleh dua imam hadis terkemuka, Bukhari dan Muslim . Jadi, landasannya kuat banget!
Pendapat 2: Tarawih 20 Rakaat + 3 Witir = 23 Rakaat
Kelompok ini berpegang pada praktik para sahabat di masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Ada beberapa dalil yang jadi pegangan:
1. Riwayat dari Yazid bin Khushoifah:
2. Riwayat dari Ibnu Abbas:
Memang, hadits dari Ibnu Abbas ini statusnya dha'if (lemah) menurut mayoritas ulama hadis . Tapi pendukung 20 rakaat punya argumen lain: ijma' (konsensus) sahabat di masa Umar.
Pada masa Umar, beliau mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan 20 rakaat tarawih secara berjamaah di masjid. Para sahabat sepakat dan tidak ada yang menentang . Ini yang kemudian menjadi dasar kuat.
Pendapat ini dipegang oleh mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali .
Bahkan Ada yang 36 Rakaat!
Di Madinah, pada masa Umar bin Abdul Aziz, penduduk melaksanakan tarawih 36 rakaat. Ini dilakukan untuk menyamakan keutamaan dengan penduduk Makkah yang melakukan thawaf di antara shalat .
Imam As-Syathiri menjelaskan:
"Ahli Madinah berkehendak menyamakan ibadahnya dengan Ahli Makkah, sebab Ahli Makkah melakukan thawaf tujuh kali putaran di antara dua tarwihan (dua istirahatan), kemudian Ahli Madinah menjadikan posisi setiap tujuh kali putaran dengan melakukan shalat 4 rakaat." .
Jadi, Mana yang Paling Benar?
Nah, ini dia kesimpulan pentingnya. Para ulama sepakat bahwa tidak ada batasan dalam jumlah rakaat tarawih .
Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah dalam kitab At-Tamhid (8/115) berkata:
Jadi, keduanya benar dan memiliki landasan dalil masing-masing:
- Yang 8 rakaat merujuk langsung pada praktik Nabi (hadits shahih)
- Yang 20 rakaat merujuk pada praktik sahabat dan ijma' setelah masa Nabi
Rasulullah SAW bersabda:
Praktik 20 rakaat di masa Umar termasuk dalam "sunnah khulafaur rasyidin" ini.
Tabel Perbandingan Biar Jelas
| Aspek | 8 Rakaat + 3 Witir | 20 Rakaat + 3 Witir |
|---|---|---|
| Total | 11 rakaat | 23 rakaat |
| Dalil utama | Hadits Aisyah (HR. Bukhari-Muslim) | Praktik sahabat di masa Umar (HR. Baihaqi) |
| Status hadits | Shahih | Riwayat shahih tentang praktik sahabat |
| Pengamal | Muhammadiyah, sebagian Hanafi | Mayoritas (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali) |
| Cara | 4-4-3 (salam tiap 4 rakaat) | 2-2-2... (salam tiap 2 rakaat) |
Terus, Sikap Kita Gimana?
Nah, ini yang paling penting. Jangan sampai perbedaan jumlah rakaat ini bikin kita saling menyalahkan, apalagi sampai mengklaim paling benar sendiri.
Akademisi UMM, R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menegaskan:
"Perbedaan jumlah rakaat tarawih hendaknya dipahami sebagai ruang toleransi ilmiah, bukan alasan untuk saling menyalahkan dalam menjalankan ibadah." .
Beberapa poin penting:
1. Nggak Usah Debat Kusir
Perdebatan liar biasanya muncul setiap Ramadhan, para ustadz mulai berceramah dan saling mengklaim kebenaran. Debat yang terkadang bermula dari kebencian, bukan dari tradisi keilmuan . Hindari, ya!
2. Hargai Perbedaan
Yang 8 rakaat punya dalil kuat dari hadits shahih. Yang 20 rakaat juga punya dasar praktik sahabat dan ijma' ulama. Keduanya sama-sama punya argumen .
3. Yang Penting Kualitas, Bukan Kuantitas
Imam Nawawi mengingatkan bahwa yang utama dalam tarawih adalah kekhusyukan dan kualitas, bukan sekadar mengejar jumlah rakaat. Lebih baik 8 rakaat tapi khusyuk, daripada 20 rakaat tapi asal-asalan .
4. Jangan Anggap Yang Lain Bid'ah
Pada dasarnya shalat tarawih tidak dibatasi oleh Rasulullah. Para ulama salaf di Madinah bahkan melakukan 36 rakaat. Jadi, nggak elok kalau kita menganggap yang 20 rakaat sebagai bid'ah, atau yang 8 rakaat sebagai kurang afdhal .
Koneksi dengan Artikel Sebelumnya
Pembahasan ini nyambung banget sama artikel-artikel kita sebelumnya:
- Di artikel "Makna Puasa yang Sebenarnya", kita belajar bahwa esensi ibadah adalah ketakwaan, bukan sekadar hitungan angka. Sama kayak tarawih: yang penting kualitas, bukan kuantitas.
- Di artikel "Marah Bisa Menghapus Pahala", kita diingatkan untuk nggak mudah marah dan menyalahkan orang lain. Termasuk dalam perbedaan pendapat soal tarawih.
- Di artikel "Hukum Haid Saat Ramadhan", kita paham bahwa Islam memberi kelonggaran dan tidak mempersulit. Nah, dalam tarawih juga ada kelonggaran jumlah rakaat.
Tips Memilih: Ikut yang Mana?
Buat kamu yang masih bingung mau ikut yang mana, nih saran sederhana:
- Ikuti masjid atau komunitas terdekat — nggak perlu pusing, dua-duanya sah.
- Konsisten — kalau sudah memilih, jalani dengan istiqamah dan khusyuk.
- Jangan minder — kalau di lingkungan mayoritas 20 rakaat, lo ikut 20 rakaat nggak masalah. Sebaliknya, kalau di lingkungan 8 rakaat, ikut aja.
- Niatkan karena Allah — bukan karena gengsi atau ikut-ikutan.
Kesimpulan: 8 atau 20, Sama-Sama Benar!
Jadi, nggak ada yang lebih benar atau salah antara tarawih 8 atau 20 rakaat. Keduanya punya landasan dalil yang kuat dan diamalkan oleh ulama-ulama besar sepanjang sejarah Islam.
Yang terpenting adalah:
- Kekhusyukan dalam shalat
- Keikhlasan karena Allah
- Konsistensi dalam menghidupkan malam Ramadhan
- Toleransi terhadap perbedaan
Namun pendapat imam Syafi'i ini adalah komentar beliau dalam perbedaan masalah khilafiyah dalam masalah furu' BUKAN dalam hal AQIDAH
Yuk, Share Biar Temen-Temen Nggak Bingung!
Gimana menurut lo? Masih bingung atau sekarang udah paham? Share artikel ini ke grup tongkrongan, grup keluarga, atau status WA biar temen-temen lo juga nggak bingung dan nggak saling menyalahkan soal jumlah rakaat tarawih!
Komen di bawah, yuk: di lingkungan lo biasanya pakai 8 atau 20 rakaat? Ada pengalaman lucu soal perbedaan ini? Sharing di sini biar jadi pelajaran bareng!



Posting Komentar