Sobat Muslim, siapa nih yang kalau buka puasa selalu hunting kolak, es buah, atau sirup manis? Atau jangan-jangan kamu termasuk tim yang percaya kalau "berbukalah dengan yang manis" itu sabda Nabi yang harus dipatuhi — sampai-sampai kalau nggak minum yang manis, puasa rasanya kurang afdol?
Tenang, kamu nggak sendirian. Tradisi buka puasa dengan yang manis-manis udah mendarah daging di Indonesia. Tapi, muncul pertanyaan yang bikin penasaran: apakah buka puasa dengan yang manis itu wajib? Atau justru cuma mitos belaka?
Nah, setelah kita bahas tuntas di artikel-artikel sebelumnya soal mitos puasa bikin lemes, hukum tidak sahur, dan marah bisa menghapus pahala, sekarang saatnya kita bedah topik yang satu ini. Yuk, simak biar nggak salah kaprah!
Asal-Usul "Berbukalah dengan yang Manis" Ternyata Bukan Hadits!
Fakta pertama yang perlu kita lurusin: Ungkapan "berbukalah dengan yang manis" BUKANLAH hadits Nabi. Nggak ada satu pun kitab hadits yang mencantumkan kalimat itu sebagai sabda Rasulullah SAW .
Kenyataannya, ungkapan ini populer karena digunakan sebagai slogan iklan salah satu produk minuman di Indonesia . Iklan tersebut tersebar luas di TV dan media lainnya, sehingga tanpa sadar masyarakat menganggapnya sebagai anjuran agama. Padahal, ini murni strategi marketing, guys!
Lalu, Apa Sebenarnya Sunnah Berbuka Puasa?
Nah, sekarang kita lihat dulu tuntunan Nabi yang benar. Rasulullah SAW punya kebiasaan berbuka yang jelas tercatat dalam hadits shahih. Simak baik-baik ya!
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
Hadits ini jelas banget. Urutan sunnah berbuka itu adalah:
- Ruthab (kurma basah) — ini yang paling utama
- Tamr (kurma kering) — kalau nggak ada ruthab
- Air putih — kalau nggak ada kurma sama sekali
Perhatikan: dalam hadits ini, air putih disebut sebagai pilihan ketiga setelah kurma. Air putih itu tawar, bukan manis . Ini bukti kuat bahwa yang disunnahkan adalah kurma dan air, bukan "yang manis" secara umum.
Terus, Apakah Makanan Manis Lain Tetap Dihitung Sunnah?
Nah, di sinilah muncul perbedaan pendapat di kalangan ulama. Mari kita lihat penjelasan dari referensi yang kita pakai.
Pendapat Pertama: Qiyas dengan Kurma (Boleh Dianggap Sunnah)
Sebagian ulama, seperti Muhammad Ali asy-Syaukani, berpendapat bahwa makanan dan minuman manis lainnya bisa diqiyaskan (dianalogikan) dengan kurma. Karena yang menjadi 'illat (sebab) disunnahkannya kurma adalah rasa manisnya .
Beliau menjelaskan dalam kitab Nailul Authar:
"Kalau 'illat disunnahkan berbuka dengan kurma itu karena manisnya, maka bentuk makanan dan minuman manis lainnya juga tergolong kategori berbuka puasa berdasarkan sunnah Rasulullah SAW." .
Dari sini, muncul pemahaman di masyarakat bahwa berbuka dengan yang manis itu sunnah.
Pendapat Kedua (Yang Lebih Kuat): Yang Manis Bukan Sunnah, Air Lebih Utama!
Tapi perlu diperhatikan: pendapat di atas tidak serta-merta menyamakan semua makanan manis dengan kurma. Apalagi, banyak ulama besar justru berpendapat sebaliknya.
Imam Nawawi dan Imam Ar-Rafi'i — dua ulama besar dalam mazhab Syafi'i — dengan tegas menyatakan:
"Tidak ada yang lebih utama setelah kurma selain air putih. Adapun pendapat Ar-Ruyani bahwa yang manis lebih utama dari air, maka ini adalah pendapat yang lemah." (Fathul Mu'in, Bab Shaum) .
Artinya, setelah kurma, yang paling utama adalah AIR PUTIH, bukan es buah, kolak, atau sirup manis. Bahkan air putih lebih utama daripada makanan manis lainnya!
Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur juga menjelaskan bahwa berbuka dengan makanan manis seperti kolak, es doger, dan sejenisnya tidak termasuk sunnah berbuka ala Rasulullah SAW . Yang paling baik tetap kurma, lalu air putih, baru setelah itu makanan manis yang tidak dimasak dengan api (seperti buah-buahan segar, madu, susu) .
Jadi, Mitos atau Fakta?
Jawabannya: MITOS kalau "buka puasa harus dengan yang manis" itu adalah sunnah atau kewajiban.
Faktanya:
- Ungkapan "berbukalah dengan yang manis" bukan hadits, tapi slogan iklan
- Sunnah yang benar adalah berbuka dengan kurma (ruthab atau tamr), dan jika tidak ada, maka dengan air putih
- Air putih lebih utama daripada makanan manis lainnya setelah kurma
- Kalau pun mau makan yang manis, lebih utama yang alami dan tidak dimasak dengan api, seperti buah-buahan segar
Tips Berbuka Sehat Ala Rasulullah + Medis
Ngomongin soal buka puasa, ada beberapa sunnah lain yang nggak kalah penting:
1. Menyegerakan Berbuka
Rasulullah SAW bersabda:
"Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka." (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitu azan Magrib berkumandang, segera batalkan puasa. Jangan ditunda-tunda!
2. Baca Doa Berbuka
Saat berbuka, jangan lupa baca doa. Di antara doa yang diajarkan:
"Allahumma laka shumtu wa 'ala rizqika afthartu" (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka) .
3. Jangan Berlebihan
Ini penting banget buat anak muda yang suka "balas dendam" pas buka. Rasulullah bersabda:
"Tidak ada tempat paling buruk yang dipenuhi isinya oleh manusia, kecuali perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya." (HR. Ahmad, Tirmidzi) .
Makan secukupnya, jangan sampai kekenyangan. Perut dibagi tiga: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, sepertiga untuk udara .
4. Secara Medis, Kurma dan Air Lebih Baik
Dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK, menjelaskan bahwa kurma mengandung glukosa alami yang cepat mengembalikan energi tanpa menyebabkan lonjakan gula darah drastis.
Sementara minuman manis buatan (sirup, teh manis berlebihan) justru bisa bikin gula darah naik turun dengan cepat, bikin cepat lelah setelahnya.
Koneksi dengan Artikel Sebelumnya
- Di artikel "Mitos Puasa Bikin Lemes", kita bahas bahwa lemes itu bukan karena puasa tapi karena pola makan salah. Nah, berbuka dengan yang manis tapi berlebihan juga bikin lemes setelahnya!
- Di artikel "Hukum Tidak Sahur", kita belajar bahwa sahur itu sunnah, tapi kalau ditinggal puasa tetap sah. Sama kayak berbuka dengan yang manis: boleh-boleh aja, tapi bukan sunnah utama.
- · Di artikel "Marah Bisa Menghapus Pahala", kita diingatkan bahwa puasa itu latihan ngontrol diri. Termasuk ngontrol diri buat nggak kalap makan manis pas buka.
Kesimpulan: Wajib atau Sunnah?
Jadi, MITOS kalau buka puasa harus dengan yang manis itu wajib atau sunnah. Yang benar adalah:
- Sunnah: berbuka dengan kurma (ruthab/tamr)
- Sunnah berikutnya: berbuka dengan air putih
- Boleh: berbuka dengan makanan/minuman manis lainnya, asalkan tidak berlebihan dan tetap prioritaskan yang sehat
- Yang paling penting: menyegerakan berbuka, membaca doa, dan tidak berlebihan
Nggak perlu galau kalau nggak sempat beli kolak atau es buah. Cukup dengan kurma dan air putih, udah dapat sunnah dan sehat!
Yuk, Share Biar Temen-Temen Nggak Salah Kaprah!
Gimana menurut lo? Masih bingung atau sekarang udah paham? Share artikel ini ke grup tongkrongan, grup keluarga, atau status WA biar temen-temen lo juga nggak salah kaprah soal buka puasa harus dengan yang manis!
Komen di bawah, yuk: menu buka puasa favorit lo apa? Ada yang rutin buka pakai kurma atau malah tim kolak setiap hari? Sharing di sini biar jadi inspirasi bareng!



Posting Komentar