Sejarah & Hukum Maulid Nabi: Benarkah Peringatan Ini Bagian dari Islam?

Sejarah & Hukum Maulid Nabi: Benarkah Peringatan Ini Bagian dari Islam?

Halo, Sobat Kangsoel! Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, suasana di banyak tempat berubah. Pengajian, pembacaan shalawat, hingga pawai obor ramai digelar. Semua serasa penuh cinta dan kegembiraan menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tapi, pernah nggak sih lo bertanya: Sebenarnya apa sih sejarah perayaan maulid nabi? Dan apakah ini ajaran Islam atau sekadar tradisi yang muncul belakangan?

Sebagai anak muda yang melek sejarah dan agama, kita perlu tahu asal-usulnya. Bukan buat men-judge, tapi biar kita paham dan nggak ikut-ikutan tanpa ilmu. Yuk, kita bahas tuntas dengan santai tapi serius! Artikel ini nyambung banget sama bahasan kita sebelumnya tentang pengertian bid'ah, macam macam bid'ah dan hukum bid'ah dan cara menguatkan aqidah di era AI. Karena memahami sejarah bagian dari menuntut ilmu dan menjaga iman. Let's go!

1. Kapan Sebenarnya Nabi Muhammad SAW Dilahirkan?

Ini pertanyaan pertama yang harus dijawab. Ternyata, para sejarawan punya pendapat yang berbeda-beda soal hari dan tanggal kelahiran Nabi.

Pertama: Bulan Kelahiran

Pendapat yang paling masyhur dan dipegang mayoritas ulama adalah bulan Rabi'ul Awal. Tapi ada juga yang bilang beliau lahir di bulan Safar, Rabi'ul Akhir, Muharram (tanggal 10 Asyura), atau bahkan Ramadhan. Nah, klaim ijma' (konsensus) bahwa beliau lahir di Rabi'ul Awal sebenarnya tidak benar. Ada perbedaan pendapat yang cukup kuat dari para ulama.

Kedua: Tanggal Kelahiran

Hadits dari Muslim menyebutkan bahwa Nabi berpuasa Senin karena hari itu adalah hari kelahiran dan pertama kali beliau menerima wahyu. Tapi, tanggal pastinya? Ada yang bilang 2, 8, 10, 12, 17, atau 8 hari sebelum akhir Rabi'ul Awal. Banyak banget perbedaan, kan?

Berdasarkan penelitian ahli sejarah dan astronomi (Muhammad Sulaiman Al-Mansurfury & Mahmud Basya), kesimpulan yang lebih kuat adalah 9 Rabi'ul Awal, bertepatan dengan 20 atau 22 April 571 M. Ini didasarkan pada penanggalan peristiwa Gajah dan masa kekuasaan Kisra Anusyirwan.

Yang menarik: para ulama sepakat bahwa Nabi wafat pada hari Senin, 12 Rabi'ul Awal tahun 11 H. Jadi, tanggal 12 Rabi'ul Awal itu lebih dekat dengan tanggal wafatnya Nabi, bukan tanggal lahirnya. Para ulama lebih sepakat dan fokus pada hari wafatnya, karena itu berkaitan dengan berakhirnya wahyu dan syariat. Sementara tanggal lahir nggak terlalu diperhatikan karena belum ada hukum syariat yang turun saat itu. Sebuah catatan penting yang sering dilupakan.

Imam Abu Amr bin al-Alla' (w. 154 H) bahkan mengatakan, "Masyarakat akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka masih merasa terheran. Mengingat bulan kelahiran Nabi adalah Rabiul Awal, yang ini juga merupakan bulan wafatnya beliau. Sementara bergembira di bulan ini karena kelahirannya, tidak lebih istimewa daripada bersedih karena wafatnya beliau." (Al-Hawi Lil Fatawa, 1/190).

Ini mengingatkan kita pada kaum Nasrani yang merayakan Natal setiap 25 Desember, padahal Yesus nggak mungkin lahir di bulan Desember dan perayaan itu adalah bid'ah dalam agama mereka. Apakah kita mau mengikuti pola yang sama?

2. Sejarah Munculnya Peringatan Maulid Nabi

Ini bagian yang paling penting dan sering tidak diketahui. Siapa sebenarnya pelopor perayaan Maulid Nabi? Dari mana asal-usulnya?

Para ahli sejarah mencatat bahwa kelompok yang pertama kali mengadakan perayaan maulid adalah kelompok Bathiniyah yang menamakan diri mereka sebagai Bani Fatimiyah (Dinasti Fatimiyah). Mereka mengaku sebagai keturunan Ahlul Bait, tapi ini adalah klaim dusta. Mereka memiliki 6 perayaan maulid: maulid Nabi, Ali, Fatimah, Hasan, Husain, dan maulid penguasa mereka.

Dinasti ini berkuasa pada awal abad ke-4 H. Jadi, perayaan maulid baru muncul setelah berlalunya tiga generasi terbaik umat Islam (sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in). Peringatan ini belum pernah ada di zaman Nabi, para sahabat, dan generasi salaf. Al-Hafid As-Sakhawi menegaskan hal ini.

Siapakah Bani Fatimiyah (Bani Ubaidiyah) Itu?

Mereka adalah kelompok Syi'ah pengikut Ubaid bin Maimun al-Qoddah. Nama yang lebih tepat adalah Bani Ubaidiyah, bukan Bani Fatimiyah, karena mereka bukan keturunan Fatimah.

Tokoh yang lebih dikenal adalah Abu Ubaid al-Qoddah, seorang Yahudi yang membenci Islam. Dia adalah pendiri dan pemimpin pertama Bani Fatimiyah, yang berasal dari Irak dan lahir di Kufah sekitar tahun 206 H. Dia mengaku sebagai al-Mahdi al-Muntadhar. Para ulama peneliti nasab (silsilah) mengingkari klaimnya.

Aqidah mereka adalah Bathiniyah, yang meyakini setiap ayat Al-Qur'an punya makna batin yang hanya diketahui oleh pemimpin mereka. Ini adalah penyelewengan besar. Mereka juga merayakan hari raya Majusi dan Nasrani, seperti Nauruz (Tahun Baru Persia), Al-Ghottos, dan Milad (Natal). Ini menunjukkan betapa jauhnya mereka dari Islam.

Apakah Salahuddin Al-Ayyubi Pelopor Maulid?

Tidak benar sama sekali! Salahuddin Al-Ayyubi justru adalah orang yang memberantas Dinasti Fatimiyah dan perayaan-perayaan bid'ah mereka. Beliau berkuasa setelah runtuhnya dinasti ini. Jadi, klaim bahwa Salahuddin yang memulai Maulid adalah pemalsuan sejarah.

Tabel: Fakta Penting Seputar Maulid Nabi

AspekFakta Sejarah
Tanggal Kelahiran NabiBanyak perbedaan pendapat (2, 8, 9, 10, 12, 17 Rabi'ul Awal, dll). Pendapat kuat: 9 Rabi'ul Awal
Tanggal Wafat Nabi12 Rabi'ul Awal 11 H (disepakati ulama)
Pelopor Maulid NabiBani Fatimiyah (Bani Ubaidiyah) pada abad ke-4 H
Sikap Salaf terhadap MaulidTidak pernah dilakukan dan tidak dikenal
Salahuddin Al-AyyubiMemberantas Bani Fatimiyah, bukan pelopor

3. Sikap Para Ulama Terhadap Bani Ubaidiyah (Fatimiyah)

Para ulama Ahlus Sunnah sangat tegas menentang Bani Ubaidiyah. Mereka menegaskan status kafirnya karena aqidah yang menyimpang. Tidak boleh bermakmum di belakang mereka, tidak boleh menikah dengan mereka, dan wajib memerangi mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: "Bani Fatimiyyun adalah di antara manusia yang paling fasik (banyak bermaksiat) dan paling kufur." (Majmu' Fatawa, 35/127). Beliau juga menegaskan bahwa klaim nasab mereka sampai Fatimah adalah dusta tanpa dasar ilmu.

Para ulama seperti Al-Qadhi Abu Bakr Al-Baqillani, Al-Qadhi Abu Ya'la, dan Imam Al-Ghazali juga menulis kitab khusus untuk membongkar kedok dan kesesatan mereka. Bahkan, Syaikh Abu Ishaq as-Siba'i mengajak umat untuk memerangi mereka.

Jika perayaan maulid dipelopori oleh kelompok yang aqidahnya kafir dan sesat, lalu apakah perayaan ini bisa disebut sebagai syiar Islam? Tentu tidak. Ini adalah syiar Syi'ah Bathiniyah, bukan syiar Islam. Sebagai kaum muslimin yang membenci kesyirikan dan bid'ah, kita tidak selayaknya melestarikan syiar yang merupakan bagian dari ajaran pokok mereka.

4. Apakah Maulid Nabi Bukti Cinta kepada Rasulullah?

Pertanyaan klasik ini sering muncul. Akankah kita katakan para sahabat tidak mencintai Nabi? Padahal mereka adalah orang-orang yang paling mencintai dan mengikuti beliau. Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Hasan, Husain, dan para imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, Ahmad) tidak pernah merayakan maulid.

Bukti cinta rosulmu adalah dengan mentaatinya

Cinta yang sejati bukanlah dengan merayakan hari kelahiran, tapi dengan mentaati ajaran dan menjauhi larangannya. Seorang penyair berkata dengan indah:

"Jika cintamu jujur, tentu engkau akan mentaatinya… karena orang yang mencinta akan taat kepada orang yang dia cintai."

Bagian dari ketaatan kepada Nabi adalah tidak melakukan perbuatan yang tidak beliau ajarkan. Beliau sangat tegas dalam sabdanya: "Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak." (HR. Muslim).

Jadi, merayakan maulid bukanlah bukti cinta, melainkan bentuk ketidaktaatan karena menambah-nambahi ajaran agama. Cinta sejati adalah mengikuti sunnah beliau dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam beribadah dan merayakan hari-hari tertentu.

Kesimpulan: Kembali ke Sunnah, Bukan Merayakan Bid'ah

Setelah menelusuri sejarah, fakta menunjukkan bahwa perayaan Maulid Nabi tidak dikenal di masa salaf dan justru dipelopori oleh kelompok sesat Bathiniyah. Tanggal 12 Rabi'ul Awal lebih dekat dengan hari wafatnya Nabi daripada hari lahirnya. Para ulama sepakat bahwa maulid adalah bid'ah yang tidak dicontohkan Rasulullah dan para sahabat.

Sebagai generasi muda yang cinta Rasulullah, mari kita wujudkan cinta itu dengan cara yang benar: mempelajari sunnah, mengamalkan ajarannya, dan menyebarkan ilmunya. Bukan dengan merayakan hari yang tidak pernah beliau perintahkan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran (3): 31, "Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu...'"

Mari kita tinggalkan perayaan yang tidak ada dasarnya dan kembali ke jalan yang diajarkan Rasulullah SAW. Wallahu waliyyut taufiq.

Gue harap artikel ini menambah wawasan lo tentang sejarah dan hukum maulid. Kalau ada pertanyaan, tulis di kolom komentar ya. Jangan lupa share ke teman-teman biar pada paham. Sampai jumpa di artikel sejarah Islam berikutnya! 😊

— Kangsoel, blogger yang ingin selalu belajar dan mengikuti sunnah —

Posting Komentar

"Berkomentarlah dengan bijak dan sopan, mari kita budayakan bertutur kata yang baik dan saling menghormati. Mohon maaf bila komentar Anda yang tidak memenuhi kriteria tersebut akan saya hapus. Bila Anda ingin memberikan saran, kritik, masukan yang membangun, dan memberikan tambahan materi bila ada kekurangan pada artikel yang sedang dibahas dengan senang hati saya persilakan, terima kasih."
Banner reyhancell
Vertical banner reyhancell